PSIKOLOGI PRAKTIS

ISTRI BERTENGKAR DENGAN SUAMI

 

            Suatu hari datang kepada saya, seorang ibu-ibu untuk berkonsultasi.

Setelah saya mengetahui bahwa yang akan ditanyakan adalah masalah pertengkarannya dengan suaminya, maka saya minta untuk datang bersama suaminya. Dan benar, beberapa hari kemudian ia datang lagi bersama suaminya.

            Menurut sang ibu, ia sendiri heran. Karena ia berrumah tangga telah 20 th. Dan telah dikaruniai anak, anak sulungnya saat itu telah berusia 18 th. Katanya selama 29 tahun berkeluarga baru kali ini ia bertengkar dengan suaminya dan sangat serius (gawat) pertengkarannya. Lebih lanjut ia mencurigai, bahwa ada pihak ketiga yang sengaja mengacau rumah tangganya. Pihak ketiga ini bukan WIL, melainkan kenalan si Ibu. Dimana beberapa waktu yang lalu si Ibu ini berselisih paham dengan kawannya tersebut. Sehingga mencurigainya, dan menduga kawannya yang berselisih paham ini sakit hati kemudian mencari dukun dan mengacau rumah tangganya dengan kuasa gelap.

            Setelah saya telusur, ternyata dugaan si ibu ini meleset. Perlu diketahui kebiasaan kami jika menerima para konseli (orang yang konseling), penelusuran saya melalui saya minta menggambar (psikotes proyektif) seperti jika melamar ke AKABRI. Dari ghambar ini saya menganalisanya.

 

            Persoalannya sangat sepele sekali.

  1. Kepribadian si ibu ini adalah Sanguin, dan kepribadian suaminya Plegmatig.
  2. Usia si ibu ini pas memasuki periode setengah baya. Yaitu empatpuluh tahun lebih sedikit.

 

Kepada mereka berdua saya jelaskan tentang kepribadian mereka masing-masing. Mereka terheran-heran mengapa saya mengerti kepribadian (watak) mereka dan pas sekali katanya. Bahwa ibu ini adalah sangat haus perhatian, kebalikannya suaminya sangat cuek. Dingin, pendiam, tidak mau KKN karena lebih memegang keadilan. Suaminya kebetulan juga tidak mengerti kelakuan isterinya yang tengah memasuki usia tengah baya.

           

            Waktu itu, ketika si ibu ini bertengkar dengan kawannya, merasa terpojok, kemudian mengadu kepada suaminya minta pembelaan. Dan ternyata suaminya tidak membelanya. Padahal menurut logika si ibu, wajarlah bahkan wajib suami membela isteri yang tengah terpojok, tetapi mengapa tidak membelanya?

            Pada-waktu-waktu berikutnya, ketika pengaruh usia tengah baya nya telah mulai “ber aksi”, ibu ini mengaku setiap mau tidur malam selalu mandi dulu dan berdandan, termasuk ber mek-up. Tetapi suaminya tetap cuek dan dingin. Lama kelamaan si ibu ini jengkel dan marah dan….cemburu, mengapa sekarang suaminya dingin? Karena kehausan nya gairah seks si ibu yang tidak direspon oleh suami, maka akhirnya membuat cemburu buta dan serba salah. Hubungan emosi terhadap suaminya menjadi “error”  Logikanya kurang lagi digunakan, justru yang mendominasi adalah perasaan marah dan cemburu. Karena tidak mendapati adanya tanda-tanda bahwa suaminya punya “WIL” maka ia kemudian mencurigai kawannya dan mencuriaginya bahwa kawannya inilah yang mengacau dengan menggunakan kuasa gelap.

 

            Setelah saya jelaskan semua, seketika itu mereka berdua berpelukan mesra di depan saya, dan selesailah pertengkarannya yang sudah ber minggu-minggu tersebut hanya dalam beberapa jam saja.

 

Keterangan:

A). Menurut Hipokrates   (ahli jiwa 500 SM), kepribadian manusia dibagi dalam

      empat kelompok   kepribadian.  Yaitu : Sanguin, Melankolis, Kolerik dan

      Plegmatig.

      Setiap  kelompok kepribadian ini masing masing memiliki watak / kebiasaan /

      kelakuan yang sama, tetapi juga memiliki watak / kebiasaan yang

      mendominasi dan merupakan cirri khas masing-masing. dari setiap kelompok

      tersebut.

      Misalnya ciri khas kebiasaan / watak nya kelompok yang disebut:

      Sanguin; periang, supel, mudah bergaul, tidak malu-malu ber aksi

     (bertingkah), senang mendapat perhatian, tidak senang sendirian, karena

      Lebih senang ditempat yang banyak orang dan tidak tahan kesepian. Senang

      mendapat pujian, mudah ganti pasangan dan kurang berpotensi patah

      hati.bersifat  ekstrofet dll.  

      Melankolis; lebih senang ditempat yang tidak hiruk-pikuk dan tahan

      kesepian, Penampilannya  Sopan dan kalem tetapi malu-malu. Jadi kurang

      berani ber aksi. Segala  sesuati dipikirkan mendalam dan cenderung diam-

      diam. Kurang  berani  mengambil resiko. Tidak mudah dimintai pertolongan

      Berpotensi patah hati, karena sangat mudah memasukkan kehati termasuk

      kenangan indah dan yang menyakitkan. Sehingga tidak mudah memaafkan.

      Banyak hal yang dipendam dalam hati dan introvert.

      Kolerik; Tidak sabaran, mudah marah, grusa – grusu, tidak senang ditekan /

      di tindas, pemberani dan berani mengambil resiko, berpotensi menjadi

      pemuka, hobbi menjadi pembela dan pahlawan,ceplas-ceplos tidak basa-

      basi.Senang bergaul, tidak pendendam, mudah melupakan kenangan dan

      mudah memaafkan.Ekstrovert

      Plegmatig; Lebih memegang keadilan, tidak pilih kasih, tidak senang

      bertengkar, lebih  senang ditempat yang hening, cuek, tidak mudah tergerak /

      terpengaruh situasi, kalem dan lamban.Kurang berani mengambil resiko.

      Segala sesuatu dimasukkan dalam hati dan lebih teliti dan hati-hati. Tidak

      pandai bergaul atau menarik perhatian orang lain, Introvert.

 

B). Usia tengah baya. Pada wanita disebut tengah baya ialah pada usia

     Menjelang  Empat puluh tahun sampai limapuluh tahun. Mempunyai

     kebiasaan yang berbeda. Biasa disebut puber kedua. Yaitu menjadi lebih

     genit, lebih agresif, cemburuannya meninggi, lebih sensitive, kebutuhan

     kemesraannya / seks meningkat. Sebagai peristiwa alami dalam rangka akan

     tibanya menopause. Kurang rasional, dan kurang bias berfikir panjang.

Ungkapkan pendapat Anda