MENGENALI KEBOHONGAN PENAMPILAN

Dalam pergaulan keseharian, biasanya ketika berkenalan dengan orang baru, dalam hati akan timbul pertanyaan:

Orang ini (orang yang baru dikenalinya tersebut) bagaimanakah latar belakang yang sesungguhnya ? Misalnya :

  1. Apakah ia seorang yang pandai atau orang biasa saja?
  2. Apakah ia orang yang jujur atau berkebalikannya?
  3. Apakah yang ia tampilkan tersebut benar atau boong-boongan ? 
  4. Apakah orang ini orang yang memiliki kesabaran?
  5. Apakah orang ini adalah orang yang senang tampil? Atau berkebalikannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini timbul adalah dalam rangka bersiap-siap menyikapi langkah selanjutnya seandainya nanti kita harus berkomunitas dengannya. Minimal untuk menghindari jangan sampai menimbulkan ketersinggungan, atau kita dibohongi atau kita dirugikan ketika berkoneksi dengannya.

              Mengapa hal ini menjadi pertanyaan ?

Yang umum, setiap orang ketika keluar rumah dan kemudian akan kontak dengan orang banyak, terutama jika akan bertemu dengan sebagian orang yang sudah dikenal, maka dalam  penampilan tidak akan sembarangan. Biasanya akan berpenampilan sedemikian rupa sehingga orang akan menghargainya. Bukannya menyepelekan. Oleh karenanya didalam ia berpenampilan tidaklah sembarangan asal tampil dan asal berbusana. Biasanya bagi orang yang merasa belum kaya, ia akan tampil asedemikian dengan harapan agar orang yang melihatnya tidak akan meremehkannya karena menganggap sebagai orang miskin.

Jika orang ini merasa kurang pandai, maka ia akan tampil sedemikian rupa agar orang lain tidak mengira bahwa ia adalah orang yang kurang pandai.

Jika orang ini merasa kurang tampan, maka ia akan tampil dengan dandanan yang sedemikian rupa orang akan memberikan apresiasi bahwa ia seorang yang tidak jelek.

Oleh sebab itu siapapun yang keluar rumah dan kemudian akan berkomunitas, maka ia pasti tampil dengan tidak asal tampil.          

Dalam dunia penampilan biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor.  Faktor pertama adalah faktor tipologi yang ia miliki.  Faktor kedua adalah faktor Topeng Kepribadian.  Faktor ketiga adalah pengetahuan. 

 Yang dimaksut dengan faktor tipologi adalah: Bahwa menurut Hippokrates (500 SM) manusia memiliki empat tipologi kepribadian. Dimana masing masing tipologi kepribadian ada “kelakuan” atau kepribadian yang dominan. Kelakuan atau kepribadian atau watak yang dominan ini biasanya mempengaruhi sepak terjangnya dan sistimnya dalam membuat suatu keputusan terhadap apa yang akan dilakukan.

          Sebelum kami uraikan lebih lanjut, kami sampaikan dahulu bahwa menurut Hippokrates, tipologi kepribadian terdapat empat kelompok. Masing-masing kelompok diberi nama yang berbeda. Selanjudnya istilah kelompok saya ganti dengan ‘tipologi’.

tipologi pertama diberi nama KHOLERIK, tipologi kedua diberi nama MELANKOLIS, tipologi ketiga diberi nama SANGUIN, dan tipologi ke empat diberi nama PLEGMATIK.

Sekarang bagaimana ciri-ciri atau kepribadian yang dominan dimiliki oleh setiap tipe?

KHOLERIK: orangnya cepat bertindak dan biasanya ceplas-ceplos, tidak sabaran mudah naik pitam tetapi mudah mengampuni dan tidak pendendam, pemberani dan tidak senang tertindas. Sehingga agak sukar menjadi bawahan cenderung senang mandiri atau kalau mampu akan lebih senang jika memerintah dari pada diperintah. Lugas, rela memberi pertolongan.

MELANKOLIS: Orangnya senang tampil sopan, kalem tidak ceplas ceplos. Berkesan tidak urakkan. Tidak senang menonjol dan lebih senang dibelakang layar. Lambat membuat keputusan karena segala sesuatu dipikirkan masak-masak lebih dahulu. Jadi tidak mudah memberi pertolongan dan kurang berani menghadapi resiko. Jadi boleh dikata hampir bertolak belakang dengan Kholerik. Oleh karenanya kepribadiannya yang sesungguhnya kurang terlihat. Lebih suka menyendiri dari pada “gaul mengikuti trend” Tidak banyak bicara jika tidak ketemu jodohnya. Tahan kesepian. Jadi jika wanita akan cocok jadi Sekretaris atau T.I.T.I. (teman istimewa tapi intim)

SANGUIN: Orangnya supel, banyak bicara dan senang menjadi bintang. Sehingga menu emosinya adalah mendapatkan perhatian. Tidak tahan kesepian, sehingga senang mencari teman untuk kesibukan, misalnya senang berorganesasi. Manis di mulut tetapi sering lupa janji, karena yang lebih diperhatikan adalah apa yang ada didepannya dan obsesinya bagaimana bisa berperanan pada saat itu untuk menarik perhatian. Senang memperhatikan orang lain demi mendapatkan celah-celah keuntungan emosi. Oleh karenanya jika punya isteri yang bertipe Sanguin jangan buru-buru cemburu. Karena sebenarnya ia hanya tidak tahan kesepian dan suka bergaul.

Terakhir adalah PLEGMATIK: Orangnya dingin, tidak banyak bicara dan kurang senang tampil. Sehingga bertolak belakang dengan Sanguin. Lamban, kurang perhatian kepada orang lain. Lebih suka untuk dirinya sendiri. Sehingga susah memberi pertolongan. Adil dan tidak KKN dan hati-hati. Kurang pemberani. Tidak mudah dirayu.

Berikutnya adalah Topeng Kepribadian. Pada setiap orang sadar atau tidak sadar selalu ber topeng kepribadian. Namanya saja topeng. Yaitu penutup muka yang dianggapnya tidak baik ditutupi dengan sesuatu yang dianggapnya lebih baik. Jadi sebenarnya tujuan dari pada topeng kepribadian adalah dalam rangka memiliki etika kepatutan. Ia sadar jika sesuatu yang aseli justru kurang menyenangkan bagi orang lain, atau setidak tidaknya akan menimbulkan penilaian yang kurang baik terhadap dirinya. Maka menganggapnya perlu di tutupi dengan sesuatu yang akan menjadikan lebih baik.

Contoh: Wanita yang menggunakan bedak atau make up yang agak berlebihan. Dia sadar bahwa jika tidak meng make up dirinya ia akan mendapat penilaian kurang cantik atau akan kurang menyenangkan orang lain yang melihat. Termasuk orang yang mensasak rambut . Mereka men sasak rambut karena sadar bahwa rambutnya kurang lebat, sehingga akan mengganggu komunitas. Perasaannya jika ia tampil apa adanya tanpa mensasak rambutnya dahulu dengan rapi takut dituduh tidak menghargai orang (orang yang diajak berkomunitas). Atau takut diketahui orang lain bahwa rambutnya tipis, tidak lebat alias jelek.

Dalam pergaulan, kadangkala kepada teman sejawat salah seorang mengungkapkan perasaannya (curhat) bahwa ia tidak cinta kepada pacarnya atau salah seorang temannya lawan jenis. Ungkapan ini adalah merupakan ungkapan topeng kepribadian atau difenmikanisms. Artinya, sesungguhnya ia tidak seperti yang ia ungkapkan. Melainkan sebenarnya ia cinta. Namun ia merasa bahwa cintanya belum tentu diterima! Sehingga untuk menutupi kelemahannya ia mengatakan bahwa dialah yang tidak cinta.

Atau seseorang yang kebetulan tidak meneruskan kuliahnya. Ia beralasan bahwa tidak ada dana atau tidak suka dengan jurusannya atau alasan lain. Sebenarnya bukanlah itu alasannya. Kemungkinan memang tak mampu dari segi intelektual.

Faktor terakhir adalah ILMU PENGETAHUAN. Bagi yang pengetahuannya luas, ia akan tampil tidak apa adanya. Tetapi bagi yang pengetahuannya kurang luas mereka akan cenderung tampil sesuai dengan apa yang ia mau. Biasanya ia tampil sedemikian rupa untuk menutupi kurang pandainya. Misalnya saja sok tahu, berlagak banyak tahu dalam segala sesuatu.

Dari sudut tipologi. Ia akan sadar akan kekurangan dan kelemahan kepribadiannya, sehingga ia akan tampil dengan berupaya keras agar jangan menampilkan kelemahan dirinya, sebab justru akan merugikan dirinya sendiri. Begitu pula jika ia juga mengerti tentang Topeng Kepribadian, maka ia juga tidak akan asal menggunakan topeng. Agar tidak diketahui orang lain bahwa apa yang ia tampilkan bukanlah Topeng. Berbeda dengan orang yang belum mengerti Topeng Kepribadian. Ia akan cenderung berupaya keras untuk menggunakan Topeng atau menutupi kelemahannya tersebut.

KESIMPULAN

Penampilan orang dalam berkomunitas, biasanya cenderung tidak apa adanya. Terutama bagi orang yang bukan ber tipe KHOLERIK. Sebab bagi tipe Kholerik punya kelemahan tidak sabaran, sedangkan bertopeng adalah memerlukan waktu untuk persiapan menata diri atau menata kalimat.

Orang yang bicaranya berlagak ‘banyak mengerti’ biasanya justru kebalikannya. Oleh karenanya timbul pepatah : Padi semakin berisi, semakin tunduk penampilannya. Air beriak tanda tak dalam.

Hubungannya dengan tipologi dan Topeng Kepribadian adalah:

Hati-hati jika berhadapan dengan orang yang bukan bertipe Melankolis, tetapi bicaranya sopan dan ramah dan banyak manisnya. Biasanya kemanisan bicaranya bukan luar dalam. Ia sengaja bermanis-manis (bertopeng) demi untuk mendapatkan sesuatu keuntungan (entah apa) dari anda. Buktinya nanti buktikan sendiri ketika anda tidak memberikan keuntungan kepadanya, biasanya aseli kepribadiannya yang keluar. Akan mudah terlihat pada orang orang yang berprofesi sebagai penjual, bagaimana mereka menarik pembeli?

        Misalnya saja orang yang sedang di tempat ibadah, terutama Gereja (karena Gereja dikenal dengan orang yang katanya murah hati dan penuh kasih). Tutur katanya akan cenderung menyesuaikan dengan ajaran yang diajarkan oleh agamanya, yaitu penuh kasih dan terkendali. Tetapi ketika sudah berada pada komunitas yang pada”habitatnya” aselinya lah yang tampil. Oleh karenya kalimat kasar sindiran mengatakan, jika ingin mengetahui aseli kepribadian anjing, lemparkanlah tulang pada segerombolan anjing. Kepribadian aselinyalah yang keluar, yaitu rebutan tulang. Tetapi jika tidak ada lemparan tulang, maka mereka jinak-jinak dan kelihatan setia.

HUBUNGANNYA DENGAN PERJODOHAN

Bagi yang akan mencari jodoh, bagi yang merasa bertipe Kholerik, carilah jodoh yang bertipe Sanguin atau bertipe Plegmatik.   Bagitu pula yang bertipe Sanguin jangan mencari jodoh orang yang Sanguin pula. Orang yang bertipe Plegmatik, jangan pula mencari jodoh yang bertipe Plegmatik. Tetapi carilah Kholerik atau Sanguin. Jodoh, disini juga dapat diartikan sebagai PATNER kerja.

Sedangkan dalam rangka berpacaran, hati-hatilah dengan yang namanya Topeng Kepribadian. Biasanya kedua belah pihak senantiasa full topeng Kepribadian. Mengapa? Karena takut kehilangan. Sebab ia telah sadar kelemahan pribadinya. Apa yang ia tampilkan dan katakan biasanya adalah palsu.

TINGKAH LAKU

Jika anda memperhatikan tingkah laku orang lain, misalnya orang yang dengan alasan hati-hati atau tidak mau repot biasanya ia adalah orang yang penakut. Dan orang yang penakut biasanya adalah orang yang kurang mengerti alias “bodoh”. Contohnya : Apakah setiap orang yang lalu lalang pada suatu tempat keramaian misalnya pekan raya atau Mall mereka mudah menerima tawaran pemberian brosur ? Jawabnya : Tidak semudah itu memberi brosur pada orang lain yang lewat. Meskipun sebenarnya brosur tersebut hanya selembar kertas yang sebenarnya informasi berada dalam brosur tersebut sebenarnya berharga, bahkan mungin ia membutuhkan dan sebenarnya mereka tidak rugi jika membacanya. Kebalikannya, jika brosur tersebut di berikan di tempat ibadah, boleh dikata hampir semua orang mengambilnya. Meski hanya ditaruh di atas meja tanpa diberikan. Dan setelah itu ia belum tentu membacanya dengan teliti ? Mengapa begitu ? Karena ia percaya bahwa brosur yang di tempat ibadah “pasti” tidak akan merepotkan.

Ringkasnya kata: Bahwa semakin orang itu semakin kurang luas pengetahuannya, orang itu akan semakin takut berbuat sesuatu. Dan dalam rangka ketakutannya inilah ia akan semakin hati-hati yang berlebihan dalam berkomunitas. 

Semakin orang itu kurang banyak pengetahuan, dalam berkomunitas yang ia anggap pada levelnya, ia akan lebih banyak aksion. Menyampaikan pesan agar supaya orang lain mengira bahwa ia adalah orang yang banyak pengetahuannya.

Oleh karenanya hati-hatilah menilai tingkah-tingkah orang, supaya tidak keliru penilaian.

Orang yang agak ekstrem bertingkah sebagai penolong dan murah hati, justru sebenarnya ia adalah orang yang pelit dan tidak senang berkorban bagi orang lain.

Orang yang penampilannya over ramah dan murah senyum, hati sebenarnya justru berkebalikannya.

Ciri-ciri bahwa ia ber topeng, adalah ia cenderung beraksi ekstrem terhadap tingkah-tingkah aselinya yang berupaya ia tutupi dengan sesuatu aksinya tersebut dan biasanya berkebalikan dengan yang sesungguhnya. Tetapi jika penampilannya apa adanya (tanpa banyak aksi), ya itulah kecenderungan aseli nya.

Selamat mempraktekkannya.

Ungkapkan pendapat Anda